Sigmund Freud selalu mengganggap dirinya sebagai seorang
yang ateis. “dia menjalani sepanjang hidupnya dari awal sampai akhir sebagai
seorang ateis natural: yaitu, orang yang tidak melihat alasan untuk percaya
pada eksistensi dari ada yang supernatural dan yang merasa tidak membutuhkan
kepercayaan semacam itu.” Hai itu merupakan penilaian dari Ernest Jones,
seorang penulis biografi Freud yang terkenal.[1]
Banyak orang yang kagum atas keacuhan terhadap agama tersebut. Freud mengatakan
bahwa dia tidak pernah merasakan suatu perasaan yang “ bagaikan samudra” ( sensation of eternity I ) yang
digambarkan banyak orang sebagai suatu “ sensasi akan ‘ Keabadian’. “[2] sebagai konsekuensinya bukan kehidupan
personal Freud yang harus kita lihat untuk mengetahui pendanganya tentang
agama, Tuhan dan keabadian.
Jika kita mendekati pembicaraan tersebut darisudut
pandang itu hanya sedikit yang dapat dikatakan. Sedikit peristiwa dalam masa
kecil Freud tidaklah signifikan dalam persoalan ini. Bahkan pengasuhnya
mengujungi gereja bersama Freud, tapi seremoni agama mempesonakan dia terutama
sebagai suatu sumber insiden-insiden lucu yang kemudian dihubungkan dengan
keluarganya. Orang tuanya adalah seorang Yahudi tapi hanya menjalakan praktik
dan memandang sebagai “ pemikir-pemikir bebas” ( free thinkers ). Situasi dalam keluarga freud “ cukup seklaristik “
(pretty much secularistic) dan dia
tidak mengalami suatu krisis keagamaan yang khusus. Sebaliknya, dia mempunyai
sauatu pengetahuan tentang Alkitab (Bible).
Tentu saja adalah mungkin untuk menjalakan rekontruksi
psikoanalisis yang terinci mengenai erasionalitas keagamaan. Ini mungkin akan
cukup adil. Pemikiran yang sama dapat dijalankan untuk sikapnya tentang
kematian, tapi tidak untuk sikap religiusnya. Bagaimana mungkin personalitasnya
dapat dideskripsikan dalam permasalahan ini ?. dia lahir sebagai seorang
Yahudi, tapi tidak pernah menjalakna praktik-praktik dan tidak percaya kepada
Tuhan. Tanpa pernah menyangkal “Keyahudia” (Jewishness)-nya,
dia melukiskan dirinya pada temannya Pastor Pfiser, sebagai seorang “ pagan
yang jahat “ (wicked pagan ).[3]
Tapi meskipun tidak mempunyai perasaan religius dia
tampak hormat terhadap agama klienya dalam praktek psikoanalisisnya dia
memperlihatkan toleransi; dia bukanlah seorang yang fanatik, meskipun dia
sering mengumbar humor nakalnya (mungkin sering mengejek orang yang beragama?)
ketika suatu konversi ( pindah agama) merasa sangat yakin akan eksistensi Tuhan
dan yakin bahwa Tuhan pada akhirnya akan mengungkap kebenaran kepada Freud,
Freud menjawab dengan agak ringan walau dengan ironi yang tajam: “ Bagi diriku sendiri,
Tuhan tidak terlalu berarti banyak bagiku. Dia tidak pernah mengizinkanku untuk
mendengar suara dari dalam; dan jika, dalam pandangan masaku, dia (Tuhan) tidak
bergegas (memburuku?), bukan salahku jika aku tetap sampai akhir hidupku
menjadi apa seperti sekarang ‘ seorang Yahudi yang kafir’ (an infidel Jew).”[4]
Hal ini terjadi pada tahun 1928. Jawaban freud tidak
meninggalkan keraguan tentang keyakinan, sebagaimana dia merumuskanya tanpa
memberi peluang kepada korespondennya yang yang benar-benar ambisius. Tapi
sejauh yang dapat kita katakan, freud tidak biasa bersikap agresif dalam
berhadapan dengan orang beriman, tidak juga dia bekerja untuk menghancurkan
kepercayaan mereka ( orang beriman ). Dia menyatakan bahwa psikoanalis adalah
alat yang netral yang membantu pembebasan manusia, bukan suatu senjata yang
melawan keyakinan agama. Dalam praktek,
dia bahkan siap mengakui nilai terapis dari suatu keyakinan, sebagaimana jelas
dalam korespondensi dengan Pastor Pfister. Dia mengijinkan Pastor untuk melibatkan
pasienya dengan suatu agama: sublimasi religius kadang-kadang dapat menekan
suatu neurosis individu. Tapi hanya itu
yang dapat diharapkan dari suatu agama.
Usaha Freud dicurahkan demi penjelasan teoritis tentang
suatu agama. Dia menyelidiki sampai ke asal-usul dan pada tingkat itu dia
tidaklah memberikan kelonggaran-kelonggaran. Perjuangannya terhadap ide tentang
Tuhan mirip dengan perjuangan Yakob terhadap malaikat, karena itu merupakan
suatu perjuangan yang tidak pernah perhenti sepanjang hidupnya.[5]
Setelah meghetahui sikap personal freud tentang agama, kita mungkin akan
menanyakan mengapa dia harus mencurahkan banyak halaman menganai agama,
kususnya dalam tahun-tahu terakhir hidupnya. Sesunggunya, Freud tertarik dengan
segala sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan, dan mencoba mengetahui
rahasia yang tersembunyi didalamnya. Minat khususnya terhadap sosok Moses
mungkin harus dijelaskan, yang muncu selama prieode penindasan Nazi, karena
keingintahuannya tentang asal usu orang Yahudi: apa yang membuat orang-orang
seperti sekarangini?[6]
Disini saya akan membatasi diri pada penilaian teoritis
Freud tentang agama, dan akan mengikuti analisisnya tahap demi tahap. Saya akan
bekerja dari apa yang tampak lebih nyata (eviden)
ke yang lebih tersembunyi, dari gejala-gejala realitas yang mendasarinya.
Freud tampaknya memastikan satu fakta dari awal: Ketidakpercayaan tidaklah
mengejutkan; adalah suatu keyakinan yang mengejutkan dia. Ketidak percayaan dia
(Freud) dianggap sebagai sesuatu yang alamiah; keyakinanlah, dengan klaim asal
usul supernaturalnya, yang memerlukan penjelasan. Keyakinan interior Freud
tentang persoalan ini mungkin telah didapat mendahului banyak kajian tentang
masalah keagamaan tersebut. Cara pandanya terhadap dunia adalah cara pandang
manusia ilmiah yang benar-benar menghilangkan ketertarikan kepada “ keyakinan
–diri (mystically) yang mistis dan
yang misterius” (Mysterious).[7]
Semua energinya di curahkan bagi penjelasan ilmiah tentang suatu fenomena yang
dianggap tidak dapat diterima (ilmu pengetahuan) ilmiah.
A.
Neurosis Ras Manusia
Ketika Freud
menyelidiki kedalam asal-usul agama, dia melihat di dalamnya tidak lain
merupakan suatu produk dari imajinasi. Realitas Religius “ bukan lain adalah
sesuatu yang bersifat psikologis, yang diproyeksikan kedunia luar “. Tapi
bagaimana mungkin proyeksi semacam itu proyeksi ini adalah suatu psike yang
mengacuhkan dirinya sendiri dan mengubah suatu kandungan yang pada kenyataanya
merupakan milik psike itu sendiri, menjadi suatu realitas supra-sensible. Dengan
demikian agama tidaklah menyembunyikan suatu rahasia dan tidaklah tahan
terhadap analisis. Segera setelah seseorang menyentuhnya, ide tentang
Tuhan menghilang kedalam kepadatan psike
manusia. Walaupun melalui kajian yang lebih lanjut dan rinci, kesimpulan Freud
akan tetap tak berubah: tuhan “ merupakan ciptakan kekuatan psike yang terdapat
dalam diri manusia”: mereka bekerja di bawah nama pinjaman. Mereka hanyalah
figuran: dari sisi samping, kita selalu (melihat Tuhan) sekilas sebagai figur
dari seorang bapak. Perilaku Religius secara sosial merupakan suatu pengulangan
hubungan anak dan bapak yang dimantapkan.
Tugas yang
disusun Freud sendiri adalah mengeluarkan semua tuhan dari psike manusia.
Apapun yang telah dibangun oleh agama, ilmu pengetahuan harus menerjemahkan
teologi kesesuatu yang ambisius, dan dalam perumusanya kita dapat mengenali
bahasa yang berasal dari Feuerbach ( reduksi dari teologi menjadi antropologi
). Bagaimanapun juga, tugas itu berlangsung bahkan lebih jauh, ketika ia
bertujuan untuk menjelaskan dasar psike agama yang tak sadar. Dengan demikian,
pembongkaran agama akan berlangsung dengan cara menunjukan faktor psike yang
memainkan perananya di dalam formasi-formasi agamnya.
a.
Analogi
Antara Neurosis dan Agama
Segera setelah Freud beralih kembali pada agama, diamelihat agama
sebagai suatu bentuk perilaku yang sejalan dengan perilaku neurosis. Manusia
religius mirip dengan sesorang yang obsesif dalam segala hal. Sudah sejak tahun
1907, dalam suatu kajian singkat dengan judul “ Obsessive Act and Religious
Pratice” ( Tindakan Obsesif dan Praktek Agama ), dia menggambarkan suatu
kesejajaran di antara dua fenomena tersebut dan menekan analogi. Dia tidak
mengatakan “agama = neurosis” (religion = neorosis), tapi dia menyusun
suatu daftar kesamaan dan ketidaksamaan dan mencoba membangun suatu jembatan
diantara kedua istilah tersebut. Dia menulis:
Pastinya
bukan saya yang pertama-tama terpesona oleh kemiripan anara apa yang disebut
tindakan obsesif dalam neurosis dan ketaatan religius, yang melaluinya suatu
keberimanan mengungkapkan kesalehan mereka. Nama “seremonial” (ceremonial),
yang telah diberikan pada suatu tindakan obsesif tertentu ini, adalah suatu
tindakan obsesif tertentu ini, adalah bukti dari (kemiripan) ini. Bagaimanapun
juga, kemiripan ini tampaknya agak lebih daripada (hanya bersifat) superfisial
(buatan), sehingga suatu wawasan tentang asal-usul seremoni yang bersifat neurosis mungkin akan
membesarkan hati kita untuk menjelaskan kemiripan itu dengan cara inferensi
(penariakan-kesimpulan secara) analogi terhadap proses-proses psikologis
kehidupan religius.[8]
Freud terpesona oleh priaku
religius yang semu dari pasien-pasien tertentu seperti bilamana mereka
melaksanakan tindakan sehari-hari yang paling umum. Mereka memaksa diri mereka
untuk mengikuti aktivitas religius. Perilaku mereka secara umum sama kakunya,
tiadanya spontanitas, dan diatur secara rinci seperti litrugi (kebaikan).
Misalnya, orang-orang ini tidak akan pernah merasa lelah sepanjang malam kecuali
mereka telah mendapatkan kursi mereka pada sudut-sudut tertentu, membungkus dan
menata pikiran mereka pada suatu cara tertentu, dan pergi tidur dengan suatu
ritual dan tidak pernah berubah dan
secara psikologis telah diatur dan
ditentukan. Orang-orang lainnya membasuh tanggan mereka ratusan kali sehari;
mereka merasa “dipaksa” (compelled) untuk melakukanya (suatu ketakutan [phobia]
menyentuh sesuatu), sedang yang orang orang lainnya tidak pernah merasa bersih
secara moral (morally clean) (kecermatan). Hans (si anak) kecil, yang dianalisis dalam “Notes Upon a ase of
Obsessional Neurosis” (laporan Tentang suatu Kasus Neurosis Obsesional) (1909),
merasaan suatu ketakutan terhadap kuda-kuda yang tak dapat diatasi dan
melakukan sesuatu dengan kekuatannya untuk menghidari mereka. Penekanan,
pelarangan, dan ketakutan terhadap berbagai macam hal, meracuni kehidupan dari
pasien-pasien ini. Jika mereka mengubah atau mengabaikan segala sesuatu, mereka
menjadi sangat gelisah. Bagi kita semua itu tampaknya sungguh tidak rasional,
tapi bagi ahli psikoanalisis perilaku dari orang yang terobsesi bukannya tanpa
makna. Penjelasannya dapat ditemukan dalam ketaksadaran: orang yang terobsesi
mencoba menhindari atau mengusir bahaya yang mengancam mereka dari dalam, suatu
bahaya dimana kuda-kuda, misalnya, hanyalah berfungsi sebagai suatu pengganti.
Sebelum menyebutkan bahaya
ini, kita harus menggembangkan suatu analogi antara dua fenomena. Dalam banyak
hal, seremonial yang bersifat neurosis merupakan suatu hasil sampingan
agama yang klise (stereotype),
refleksi patologisnya, “ suatu parodi agama privat yang tragis dan jenaka” (a
tragic-comictravesty of a private religion)[9]
tapi daripada menangani masalah dengan cara ini, Freud membalik arahnya dan
berfikir tentang agama sebagai suatu neurosis yang ditoleransi oleh masyarakat
dan bahkan didorong dan diangkat. Bagaimanapun juga, apakah agama sebagai suatu
ketaatan seremonial yang diatur secara etat, suatu epatuhan pada larangan,
penerimaan terhada ritual yang dikodefikasi dari mana semua tingkah dan
kesalahan dikeluarkan dari kodefikasi?
Adalah mudah untuk melihat didalam mana terletak kemiripan antara
seremoni neurosis dan upacara agama; yaitu dalam ketakutan akan terjadi
kepedihan hati nurani setelah pengabaian mereka terhadap masalah
agama, dalam pengasingan mereka yang lengkap dari semua aktivitas yang lain
(suatu perasaan dimana seseorang harusnya tidak terganggu), dalam
kesehari-harian hati nurani dimana semua rincian masalah agama dilaksanakan.
Tapi yang sama-sama jelas adalah perbedaanya, beberapa darinya begitu
mengejutkan dimana mereka menjadikan perbandingan (di antara keduanya sebagai)
suatu pelanggaran terhadap kesucian[10]
Satu-satunya perbedaan antara dua tipe perilaku yang
sungguh-sungguh mengherankan Freud adalah bahwa agama berkarakter “universal”
sedangkan suatu neurosis berkarakter “privat”. Persamaan antara dua fenomena
membawa Freud membuat hipotesis bahwa mereka mempunyai suatu kesamaan
asal-usul, sementara perbedaanya membawa dia untuk melihat akar neurosis dalam
psike individu dan akar agama dalam psike kolektif yang dibentuk pada permulaan
eksistensi ras dan tetap berlangsung pada semua umat manusia.
Pada akhir dari pendekatan
pertama terhadap fenomena agama ini, Freud tidak mempunyai keraguan lagi bahwa
dua fenomena secara dekat saling terhubungkan, tidak hanya pada tingkat
gejala-gejala tapi pada tingkat sebab-sebab mereka juga maka dia tidak ragu
untuk merubah terminologi dan mendeskripsikan “neurosis obsesional sebagai
suatu sistem religius privat, dan agama sebagai sesuatu neurosis observasional
yang universal.”[11]
Masing-masing istilah dapat saling menggantikan di antara keduanya tanpa
memdistorsikan realitas.
b.
Hipotesa
tentang kesamaan asal-usul
Analogi diantara kedua fenomena menyebabkan Freud melihat adanya
kesamaan asal-usul yang akan dapat menerangkan identitas dari gejala-gejala.
Satu-satunya jalan untuk kembali pada kesamaan asal-usul ini adalah melalui
psike itu sendiri. Apa yang dapat kita temukan pada akar kehidupan manusia?
Dorongan yang dapat disebut insting oleh Freud. Insting ini secara esensial
adalah seksual sifat dasarnya tapi dapat berubah dalam arah yang berbeda:
|
|||
|
|||
|
![]() |
Ketika insting tidak dapat
menemukan pemenuhan normal mereka, dia dapat melakukannya secara tidak
langsung. Jika bebarapa halangan menegah penemuan dan lawan seksual yang
didnginkan, insting dapat, baik disublimasikan dalam suatu pengabdian yang
dimaksud-maksudkan secara sosial dapat diterima dan bernilai, atau direpresi
dan kemudian mempertegas kembali diri mereka sendiri seara tidak langsung dalam
berbagai maam perilaku yang menyimpang. Baik sublimasi dan represi merupakan
reaksi-reaksi terhadap konflik oidepal. Pernyataan ini memerlukan suatu
penjelasan singkat.
Saya akan mulai dengan
neurosis. Sejauh yang diperhatikan Freud, rahasianya telah terungkap: neurosis
merupakan tanda dari suatu konflik. Freud menggangap neurosis adalah suatu
bentuk kesalahan, suatu perilaku yang dikembangkan oleh ego untuk
menghindarkan suatu bahaya. Ego selalu bimbang di antara insting seksual id
yang menurut suatu pemuasan langsung yang maksimum, dan perintah superego yang
merepentasikan tuntunan realitas dan mempunyai kekuatan hukum: superego
merintangi, menegah, melarang. Ego dapat dibandingkan dengan seorang borjuis
jujur yang merupakan korban kebetulan dari suatu konfortasi antara bangsat
jahat (insting) dan polisi yang menybalkan ( aturan yang dikeluarkan oleh superego
).
Terperangkap dalam jalan di
antara dua tuntunan yang saling berlawanan ini, ego seara konstan menghasilkan kompromi.
Neurosis merupakan salah satu jenis kompromi, kompromi patologis yang
dikembangkan ego demi mendapat kerugian dari insting (dimana ego dengan
mati-matian mersespersi insting). Kompromi yang lain adalah mungkin, secara
khusus dalam penanaman energi psike dalam bentuk aktivitas tertentu yang secara
sosial dapat diterima: seni, sastra,
pemujaan-diri (self-sacrifice), agama. Dalam neurosis, energi psike
suatu hasrat dipakai habis tapi dengan kerugian yang sedikit.energi digunakan
dalam perjuangan yang luar biasa melawan hasrat itu sendiri, tanpa pernah ego
dapat mencapai untuk keseimbangan yang memuaskan. Dalam agama, energi psike ini
seara bermanfaat dijalankan dalam suatu pengabdian dengan maksud yang dapat
diterima secara sosial. Dalam kasus ini kompromi dapat membawa pada suatu
keseimbangan yang menguntungkan bagi ego.
Analisis singkat ini
menegaskan suatu pertanyaan kunci, tentu salah satunyatelah ditegaskan oleh
diagram yang digambarkan beberapa paragrap yang lalu. Apa yang menyebabkan
energi psike berubah menuju arah sublimasi, yaitu penanaman dalam daerah yang
diterima superego sebagai penuh
makna; atau sebaliknya, dalam daerah represi, yaitu energi psike yang didorong
masuk ke dalam kesadaran, kecuali sampai pada taraf tertentu ia muncul secara
tak lansung dalam bentuk perilaku menyimpang? Ini adalah suatu pernyataan yang
tidak dijawab Freud. Dimanapun, sejauh yang saya tahu, dia tidak menawarkan
bukti-bukti tentang percabangan dua dari energi psike ini. Logika apa yang
diikuti ketaksadaran dalam permasalahan ini? Penjelasan Freud bukanya tanpa
kelemahan dan mereka secara nyata meningalkan setidaknya pertanyaan tak
terjawab yang sama banyaknya dengan yang dapat dijawab.
c.
Oedipus
Complex
Tapi marilah kita bergerak menuju pengujian kita atas pemikiran
Freud. Perbedaan cara dimana energi psike ditanamkan bukan hasil dari pilihan
yang dibuat seara bebas. Ini agaknya sesuai dengan tekanan kekuatanya yang
memunulkan konflik dan kemudian mengatur adaptasi satu dengan yang lainnya atau
untuk mempengaruhi beberapa eleminasi atau untuk mencapai suatu keseimbangan.
Agama, seperti neurosis, merupakan hasil dari sebuah kompromi.
Situasi konfliktual apa yang berakhir dalam keseimbangan kita
temukan dalam neurosis? Ferud hal itu terjadi pada masa kecil; ini yang dia sebut sebagai tahap oidipal (oeidipal
stage). Sebagaimana telah diketahui setiap orang, pada usia kira-kira empat
atau lima tahun, seorang anak melalui suatu krisis yang sangat gawat,
unsur-unsur krisis itu adalah suatu kedekatan afektif terhadap ibunya dan
pertentangan yang dilhami kebencian (hated-inspired) terhadap bapaknya.
Pada saat ia mengembangkan ide tentang cinta, dia beralih dengan sangat alami
pada objek afektif pertamanya yang tersedia, ibunya, dan menyatakan objek ini
sebagai hak milik eksulsifnya. Bapaknya kemudian tampak bagi dia sebagai suatu
lawan karena ibunya adalah hak milik bapaknya dan dengan demikian bapaknya
menjadi sasaran dari suatu permusuhan yang keras. Kebencian ini membawanya
suatu hasrat nyata untuk membunuh bapaknya: sang bapak harus dihilangkan. Tapi
sang bapak adalah seorang musuh yang sangat kuat yang mengontrol sang anak;
sang anak harus menyerah pada bapak dan mematuhi kehendak (will)
bapaknya.
Suatu perkembangan normal dapat membuat sang anak keluar dari
situasi ini tanpa mendapat bahaya yang terlalu besar. Hasratnya akan beralih
kemana-mana, pada suatu objek yang bukan ibunya, suatu objek yang tidak
dimiliki pihak ketiga (bapak). Namun, adalah mungkin bagi sang anak untuk tetap
terpenjara dalam situasi Oeidipal: dia tidak mampu untuk menapai sesuatu
pemisahan psikologis dari ibunya dan dia tetap tidak mampu untuk menapai
sesuatu pemisahan psikologis dari ibunya dan dia tetap membani otoritas bapaknya
karena berbahaya baginya. Otoritas represif sang bapak akhirnya menjadi suatu
bagian permanen kehidupan sang anak dalam bentuk intijeksi ( Memasukan obje
kedalam psike seara tidak sadar) dari suatu superego kasar, yang membuat (anak)
trauma dan lumpuh. Bebannya terlalu berat bagi sang anak dimana dia tidak
pernah merasakan kenikmatan dan kesenangan tanpa pernah lepas membebaskan
dirinya dari perasaan bersalah ini.
Penderitaan neurosis adalah seseorang yang
hidup terus menerus dalam situasi konflik sseperti ini. Selalu berada terus
menerus dalam cengkraman perasaan bersalah yang merupakan sumber dari
kegelisahan dan menegaskan baginya suatu neurosi “seremonial” yang akan
diikutinya. Hasrat yang ditentukan kemudian akan kembali lahir terus menerus,
seperti symbol burung phoenix (symbol
keabadian ) yang selalu hadir kembali dari abunya. Tapi superego selalu mengawasi dan secara langsung menyalahkan orang
neurosis segera setelah ia memberikan kelonggaran terhadap hasratnya. Penderita
neurosis adalah orang yang gelisah; penderitaanya merupakan salah satu yang
mempengaruhi hubungannya (dengan orang lain). Jika kita mencapai akar
kesulitannya, kita akan menemukan bahwa dia masih seorang anak yang di dominasi
oleh bapaknya. Berapapun usianya, orang neurosis adalah seseorang yang mempnyai
hubungan distorsi dengan orang tuanya.
Penjelasan neurosis ini akan menimbulkan
perlawanaan, tapi inilah model yang digunakan freud untuk menjelaskan fenomena
agama. Namun pada titik ini, suatu kesulitan yang timbul yang memaksa Freud
untuk memperluas hipotesisnya; inilah kesulitan yang telah kita lihat.
Bagaimana argument Freud berjalan? Dia
berargumen bahwa jika komplek oeidipal
merupakan sumber neurosis, haruskah kita tidak mencurigai bahwa hal ini
juga ditemukan dalam asal usul agama? Hipotesis ini merupakan salah satu
hipotesis yang menarik dan Freud mencoba untuk membuktikan validitasnya. Dia
telah mengamati suatu analogi antara neurosis dan agama pada tingkat
gejala-gejala;dia menarik kesimpulan bahwa ada juga suatu analogi, jika
identitas, dari suatu sebab-sebab. Namun, dia ragu untuk menarik kesimpulan
dari suatu identitas yang sederhana. Kenapa? Karena karakter universal agama.
Kompleks oedipal individu tampak terlalu
terbatas baginya sebagai suatu dasar untuk menjelaskan agama. Itu dapat
menjelaskan agama-agama “privat“, yaitu neurosis; tapi tidak memadai untuk
menjelaskan neurosis “universal”, yaitu agama-agama manusia. Karakter universal
agama menegaskan kompleks oeidipal yang universal yang telah meninggalkan
tanda-tandanya dalam psike manusia. Apakah mungkin untuk menemukan dalam masa
kecil ras manusia suatu peristiwa seperti peristiwa yang dialami individu dalam
masa kecilnya pada saat terjadi konflik oedipal, dan yang telah membuat trauma
pada psike kolektif ras manusia?
B.
Asal-Usul Agama
Peristiwa semacam itu bahkan telah mengambil tempat pada saat-saat awal
sejarah manusia. Dengan bantuan data yang disediakan Darwin, Robertson Smith,
dan Atkinson, Freud mencoba untuk merekonstruksi “fiksi” (fiction) psikologis[12]
yang telah melahirkan semua agama. Apa yang dapat kita temukan pada permulaan
sejarah ras manusia? Sebuah pembunuhan. Pembunuhan ini menciptakan perasaan
rasa bersalah dimana umat manusia tidak pernah berhasil membuangnya dan yang
telah membimbing manusia untuk menciptakan agama sebagaimana banyak strategi
lainnya untuk membebaskan manusia dariperasaan bersalah, walaupun tanpa
menyingkap rinciannya yang seksama, saya akan menggambarkan penjelasan Freud
yang muncul khususnya dalam Totem and
Taboo (1913) dan Moses and Monotheism
(1939).
a. Pembunuhan
Primal
Sampai titik ini
perjalanan kembali Freud pada asal usul tampaknya agak kohern dan logis, tapi
dia masih belum bergerak melampaui batas-batas psike individu. Bahkan ada suatu
identitas stuktur psike dalam semua individu karena kompeks oidipus telah meninggalkan tandanya pada semua
individu karenanya, tapi Freud menolak untuk berargumen dari psike individu
menuju pada asal-usul agama. Pada sisi lain, dari fakta yang didapatkan dari
analogi antara agama. Pada sisi lain, dari fakta yang didapatkan dari analogi
antara agama dan neurosis menuntun dia untuk membuat hipotesis, jika tidak ada
satu asal usul tunggal bagi dua fenomena tersebut, setidaknya asal-usul yang
berbeda tersebut adalah identik dalam stukturnya. Yaitu, dia pecaya bahwa
konfil oedipus merupakan sumber tidak hanya bagi neurosis tapi juga bagi agama.
Namun, karena karakter universal dari agama harus dijelaskan, dia
mengesampingkan pengamatan psikologis dan beralih pada data etnologi. Dia
menjalankan suatu penyelidikan historis dan mencoba menemukan suatu kompleks
oedious kolekktif dalam sejarah masa lalu ras manusia.
Dia membuat
hipotesis bahwa swsuatu yang mirip dengan konflik oedipal telah terjadi pda
awal sejarah ras manusia. Dia kemudian berusaha untuk menopang hipotesa ini
dengan fakta-fakta yang membuatnya tidak masuk akal. Apa yang kita ketahui
tentang ras manusia pada saat keadaan primitifnya? Menurut darwin, umat manusia
secara alami pada awalnya hidup dalam gerombolan-gerombolan kecil,
masing-masing gerombolan tersebut “berada di bawah aturan dari pria tertua yang
mengatur dengan kekuatan yang kasar”.[13]
Cara hidupnya adalah patriakal: sang
bapak mempunyai otoritas dan memonopoli kenikmatan. Sang anak tidak memiliki
apapun dan tergantung pada kehendak baik sang bapak. Menyingkirkan mereka
sehingga dia tidak mempunyai saingan dan memiliki semua wanita untuk dirinya
sendiri (keadaan seperti ini tentu tidak ditemui di mana pun juga; satu-satunya
rezim primitif yang kita ketahui sekarang adalah yang egaliter). Gerombolan di
bawah dominasi seorang bapak yang keras yang keras dihasilkan oleh suatu klan
yang terdiri dari saudara-saudara tua, “asosiasi laki-laki yang mencakup
anggota-anggota dengan hak-hak yang sederajat”.[14]
Suatu rantai
hilang di antara dua bagian akhir dari perubahan ini, yaitu, antara rezi otoritarian
dan rezim egalitarian. Bagaimana yang satu mengalah pada yang lainya? Di
sinilah hipotesis Freud terpeleset. Mengambil dari karya Atkinson, Freud
menganggap bahwa sang anak laki-laki, karena lelah untuk tunduk pada otoritas
sang bapak kenikmatanya dicabut, membuat
suatu kelompok untuk melawan sang bapak dan membunuhnya. Mereka “menyergapnya
dan bersama-sama mengkonsumsi tubuhnya”.[15]
Ini akan menjadi asal-usul dari pemakanan totem yang telah dipelajari Robertson
Smith. Totem selalu merespentasikan sang bapak; pemakanan totem merupakan suatu pesta
untuk merayakan kemenangan sang anak lelaki melawan sang bapak; sang anak
laki-laki merayakan pembunuhan atas bapaknya dan melalui acara makan (totem)
yang sama mereka mengapropriasi kekuatan sang bapak untuk diri mereka sendiri.
Segera setelah sang bapak dibunuh, sang anak laki-lakki mengorganisasi
kehidupan bersama mereka. Untuk mencegah retrogesi (kembali ke masa lalu) dan
menjauhkan dari kekerasan , mereka memantapkan aturan bagi kehidupan sosial,
khususnya larangan insens dan pembunuhan. Maka mulailah suatu peradaban (civilation).
Jika semua bukti
gabungan ini dibuat hukumnya, maka hipotesi kompleks Oedipus dimana semua umat
manuisa mengalaminya kemudian diteteapkan. Larangan inses dan pembunuhan membuat kita mampu menyimpulkan eksistensi
dari suatu komplek semacam itu. Dua macam larangan ini dapat diidentifikasikan
dalam tiga situasi dimana Freud ingin membandingkanya: tahap oedipal (pepresi
cinta terhadap sang ibu dan kebencian terhadap sang bapak), neurosis (yang merupakan suatu fiksasi
pada tahap oedipal dan suatu kristilisasi tahap ini dalam bentuk suatu
kompleks), dan umat manusia primitif (yang menemukan
dalam dua macam larangan salah satunya jalan untuk menghindari konfortasi
berdarah mendapatkan sirkulasi perempuan-perempuan dan pertukaran
perempuan-perempuan di antara anggota-anggota suatu klan). Penemuan unsur-unsur
yang sama dalam berbagai situasi ini menegaskaan bagi Freud bahwa kompleks
oedipus mempunyai kesamaan di antara ketiganya. Kompleks Oedipus yang ditemukan
dalam masa anak-anak membantu Freud, sebagai suatu ikatan yang sama, dalam
memperbandingkan dua lainnya dengan yang pertama.
b. Perasaan
Bersalah
Namun, pembunuhan terhadap sang bapak
tidaklah benar-benar menguntukan bagi sang anak laki-laki. Pembunuhan
menjadikan suatu peradaban mungkin timbul, tapi juga meninggalkan suatu tanda
yang mendalam pada umat manusia. Trauma pembunuhan menimbulkan jejak dalam suatu
perasaan bersalah.
Bagi Freud perasaan bersalah berasal dari
kenyataan bahwa pembunuhan primal berlanjut menjadi suatu beban dalam kesadaran
manusia. Pembunuhan merupakan cara untuk memuaskan suatu hasrat, yaitu ,
eleminasi sang bapak dan memasuki wilayah kenikmatan yang dijanjikan. Sang
bapak telah dibunhuh; kebencian menang. Mulai dari saat itu hasrat dapat secara bebas diungkapkan dan terpuaskan
tanpa pernah sang bapak berada telaha
dibunuh; kebencian menang. Mulai dari saat itu hasrat secara bebas
diungkapkan dan terpuaskan tanpa
pernah sang bapak berada disana untuk
mencelanya. Tapi pada titik kenyataan ini, perasaan akan kebebasan yang
diharapkan, tidak pernah terjadi. Segera setelah pembunuhan dilalkukan, cinta
dari anak ketrurunanya menimbulkan suara protes dan sang anak laki-laki merasa
bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Kebersalahan ini memasuki panggung
sandiwara. Dengan cara inilah sang bapak membalas dendam; sang bapal membalas
sang anak dengan cara “tinggal” di dalam kesadaran sang anak laki-laki. Sesungguhnya,
“yang mati (bapak) menjadi lebih kuat daripada ketika dia masih hidup.”[16]
Kehadiran sang bapak memperlihatkan diri mereka dalam perasaan bersalah yang
merupakan suatu introjeksi (introjection)
dari pembunuhan bapak tapi (sekarang sang bapak) yang berubah menjadi seorang
penuduh (yang menyalahkan). Mata dari dalam kubur selalu menyalahkan, dan tidak
ada jalan keluar untuk mengelakan tatapanya.
Akan merupakan suatu kesalahan untuk
membicarakan dengan ringan deskripsi Freud ini, karena deskripsi itu mempunyai
beberapa dasar. Freud menemukan penegasan dari deskripsi ini dalam pengamatan
klinis tertentu. Lagi-lagi, di sini, ini merupakan kesalahan yang dirasakan
oleh beberapa penderita neurosis atau oleh anak-anak yang membuat masuk akal
hipotesa dai suatu kesalahan primal dan bawaan. Telah kita ketahui, sebagai
misal, bahwa seorang anak yang bapaknya telah meninggal pada waktu ketika sang
anak melalui krisis oedipal mengalami suatu perasaan bersalah yang kuat.
Setelah kematian bapaknya, sang anak sering merasa secara kuat bahwa dia
bersalah; ketaksadaranya memprotes dan menegaskan bahwa kebencianya mungkin
telah bertanggung jawab terhadap kematian bapaknya. Perasaan bersalah merupakan
suatu pendakwaan yang dituduhkan pada ego
oleh superego yang menyalahkan ego karena tidak merepresi kebencianya.
Hasilnya adalah bahwa semua anak laki-laki,
yang “membenci sang bapak tapi juga mencintai dan mengakuinya,”[17]
telah “mendapatkan” (gotten) suatu
perasaan bersalah,[18]
dalam pengertian seperti seseorang “mendapatkan” penyakit flu. Kekuatan
perasaan kebencian yang pada mulanya
merupakan suatu pembalikan, suatu
kebencian terhadap bapaknya. Yang ada adalah suatu pembalikan , suatu kebencian
yang membalik kepada dirinya sendiri yang pada mulanya kebencian itu
dimaksudkan untuk sang bapak. Dengan demikian, dalam pandangan Freud super
ego tidaklah benar-benar mewarisi otoritas tirani dari sang bapak; super
ego juga merupakan ahli waris dari agresivitas yang telah dirasakan sang anak
terhadap sang bapak. Freud hanya mengatakan sedikit dengan cara menjelaskan
bagaimana pembalikan kebencian ini dan bagaimana perubahan energi ini ke dalam
suatu perasaan bersalah terjadi.[19]
Pertanyaan tersebut tetap tak terjawab oleh Freud.
Pembaca akan dengan pasti bertanya: tapi
bagaimana itu mungkin sebagai asal-usul dari perasaan bersalah, suatu kenyataan
psikologis dalam ketaksadaran sang anak yang berada dalam gerombolan primitif,
dialihkan kepada anggota ras manusia yang belakangan? Bagaimana pengalihan dan
keberlangsungan itu dapat terjadi segera setelah tindakan tersebut berlalu,
yang akhirnya melahirkan suatu perasaan bersalah? Jawaban Freud adalah bahwa
ketaksadaran kolektif, yang menampakan dari dalam konteks ini, dapat dialihkan,
tapi dia tidak menjelaskan proses tersebut pada kita. Segera setelah
eksistensinya dalam umat manusia diakui, maka itu membuat kita mampu memahami
tentang kelahiran agama: agama merupakan suatu cara untuk menetralkan suatu
perasaan bersalah.
c. Kelahiran
Agama
Dasar psikologis dari agama sekarang
tampaknya menjdi jelas: mereka dalam segala hal mencoba untuk memecahkan
permasalahan afektif yang disebabkan oleh pembunuhan primal. Agama adalah suatu
usaha untuk mengusir perasaan bersalah yang disebabkan oleh pembunuhan dan
untuk mewujudkan penyesalan yang timbul karena tindakan itu:
Agama totem telah timbul berasal dari
perasaan bersalah sang anak sebagai suatu usaha untuk meredakan perasaan ini
dan untuk berdamai dengan sang bapak yang “terluka” melalui kepatuhan yang
berlanjut setelah kejadian itu. Agama-agama yang berikutnya ternyata mencoba
untuk memecahkan permasalahan yang sama, bervariasi hanya menurut keadaan
budayanya dimana agama-agama dicoba dan menurut jalan yang mereka ambil; namun,
mereka semua merupakan reaksi-reaksi yang mengarah pada peristiwa besar yang
sama diamana suatu kebudayaan muncul dan sejak itu tidak pernah membiarkan umat
manusia untuk beristirahat.[20]
Pembunhuhan primal tidak hanya menjelelaskan
agama tapi juga jumlah agregat dari fenomena sosial: agama, moralitas,
peradaban dalam suatu ringkasan yang sangat jelas, Freud mengatakan:
Pertama-tama klan saudara-saudara tua telah
mengantikan empat dari gerombolan bapak dan dijamin dengan ikatan darah.
Sekarang masyarakat didasarkan atas keterlibatan dengan kejahatan yang sama,
agama didasarkan pada perasaan bersalah dan penyeselan yang dalam yang
mengikutinya, sedangkan moralitas didasarkan sebagai pada keniscayaan akan
masyarakat dan sebagian lagi pada pertobatan yang dituntut oleh perasaan
bersalah.[21]
Freud yakin bahwa pada titik ini dia telah
mencapai uatu pemahaman yang memadai tentang fenomena agama: semua merupakan
suatu usaha untuk memecahkan masalah yang sama yang disebabkan oleh pembinuhan
primal. Tidak semua agama berhasil. Dalam penilaian Freud, agama Kristiani
telah berhasil sampai pada taraf yang luar biasa. Agama Kristen mulai dengan
suatu pengakuan akan adanya kesalahan atau dosa pertama. Ia kemudian melalui
satu-satunya jalur yang dapat menuntun pada suatu kedamaian yang sama dengan
sang bapak: kematian sang anak. karena klan yang terdiri dari anak-anak
laki-laki merupakan bagian dari kesalahan, hanya kematian sang anak yang dapat
menimbulkan suatu perdamaian. Melalui kelompok semua anggota bersama-sama
melakukan tindakan pertobatan yang
dipimpin oleh salah satu dari mereka. Ketulusan dari penyesalan mereka
dipertunjukan, pada analisis terakhir, dengan suatu pembuangan wanita, karena
wanita telah menjadi penyebab pemberontakan sang anak melawan sang bapak.[22]
Dengan demikian, kristianitas telah melengkapi suatu lingkaran : revolusi
sosial (social revolution) yang
membawa ke suatu rezim egalitarian telah tercapai pada tingkat religius dengan
kedatangan dari agama sang anak.
Seseorang mungkin akan mendebat rincian
teori Freud, karena semua teorinya terbuka untuk di tantang. Saya akan merasa
puas di sini untuk menyebutkan salah satu masalah (yang telah di bicarakan
olehPaul Ricoeur) yang muncul karna argumen Freud; masalah yang ini muncul dari
logika penjelasan Freud. Mengapa atribut-atribut dari bapak primal,
diintrojeksikan dalam bentuk superego, yang melahirkan moralitas; tapi juga di
proyeksikan ke luar dari person dan di alihkan pada suatu “ada” yang
supra-terestrial (super-terrestria)
(bumi), yang melahirkan suatu agama? “percabangan dua” (bifurcation) dari figur bapak ini tetap tak terjelaskan dan
misterius.
Dalam pandangan freud tampaknya tidak ada
keraguan bahwa tuhan “tidak lain” adalah sesuatu fidur bapak yang berubah bentuk. Dia puas
untuk mengulangi suatu teori priyeksi yang dikembangkan oleh feurbach, yang
menurutnya agama harus dijelaskan sebagai hasil yang sungguh-sungguh berasal
dari proyeksi psikologis kearah dunia luar.
Psikoanalisis telah membuat kita sadar akan
hubungan yang dekat antara kompleks bapak dan keyakinan pada tuhan, dan telah
mengajari kita bahwa tuhan personal secara psikologis bukan lain adalah seorang
bapak yang besar; ini menunjukan pada bagaimana setiap hari orang-orang muda
dapat kehilangan keyakinan religiusnya segera setelah otoritas sang bapak
runtuh. Dengan demikian kita mengetahui akar dari kebutuhan religius adalah
terletak pada kompleks paraental.[23]
C.
Suatu Ilusi Tanpa Masa depan
Freud yakin bahwa dengan bantuan dari kompleks Oedipus, dia yakin telah
mendapatkan akar kuno dari semua agama. Pada dasar setiap agama. Seperti juga
pada dasar setiap neurosis, dapat ditemukan “inti-bapak” (father-nucleus).[24]
Walaupun lemah hipotesisnya, Freud yakin
bahwa dia sekarang berada dalam dasar yang kuat, dan dia tidak akan beralih
dari sana. Bentuk agama-agama itu bervariasi, tapi mereka semua tumbuh dari
akar psikologis yang sama. Pertanyaan yang harus dijauhkan sekarang adalah:
peran apa yang dimainkan agama dalam kehidupan pria dan wanita-wanita? Apakah
peran tersebut tidak dapat tergantikan? Masa depan apa yang dipunyai agama?
Freud memecahkan permasalahan tersebut dalam bukunya The Future of an Illusion (terbit tahun 1927).
Dalam buku ini Freud tampaknya hanya memberikan suatu tempat sekunder
pada penjelasan-penjelasan yang saling terkait, yang didasarkan pada pembunuhan
bapak primal yang bersifat hipotesis. Dia memberikan suatu pendekatan yang
lebih umum tentang agama dan melihatnya terutama dalam hubunganya dengan
fungsi-fungsinya. Dengan demikian disini dia kurang tertarik pada sumber-sumber
terdalam dari pandangan religius (yang dia anggap sudah jelas) daripada apa
yang dipikirkan orang di jalanan ketika dia berbicara tentang agama. Apa arti
agama bagi orang kebanyakan? Agama berati suatu keyakinan akan suatu Tuhan yang
demikian peduli pada mereka dan menjanjikan konpensasi akan kehidupan masa
depan atas kekurangan-kekurangan yang ada di dunia.
a.
Kebutuhan Konsolasi (Penghiburan)
Walaupun
Freud tetap mengacu pada hipotesa
pembunuhan primal sebagai sumber dari suatu agama yang mempunyai tujuan
membantu umat manusia untuk mengatasi hubungan yang sulit dengan sang bapak,
namun dia menekankan terutama pada fungsi agama yang nyata yaitu untuk mengbur
orang-orang yang mengalami pengabdian hidup yang kasar: “Hidup, sebgaimana kita
ketahui, terlalu keras bagi kita, hidup membawa kita pda banyak penderitaan, kekecewaan, dan tugas yang
mustahil.”[25]
Tidak perlu untuk tetap bertahan pada
kenyataan bahwa hidup itu keras. Orang-orang mengalami kekerasan dengan tiga
cara: mereka merasa dihancurkan oleh alam, terkutuk sampai mati, terluka akibat
hubungan dengan orang lain. Agama berusaha untuk mengatasi tiga kesalahan ini
dan mengusir takdir umat manusia yang keras di dunia ini: “tuhan mempertahankan
tiga macam tugasnya: mereka harus mengusir teror dari alam, mereka harus
mendamaikan manusia dengan takdirnya yang keras, sebagaimana terlihat pada
kasus kematian, dan mereka harus memberikan kompensasi pada manusia karena
penderitaan dan kekurangannya yang telah dipuaskan pada manusia oleh keberadaan
hidup secara umum.”[26]
Maka, apa agama itu? Ia merupakan suatu
ilusi, yaitu, suatu harapan yang diilhami oleh suatu keinginan tertentu. Agar
hidup dapat dijalani, hasrat yang frustasi menciptakan suatu ilusi yang kita
sebut agama: kepercayaan akan tuhan yang baik dadn kepercayaan akan keabadian.
Beberapa orang mencari perlindungan dalam penderitaan-penderitaan, yang lain
lagi pada obat-obatan, sedang ada yang lain mencari hiburan-hiburan. Kebanyakan orang
mecoba menetralisir kekrasan hidup dengan mencari penghiburan melalui narkotik
yang dikenal sebagai agama. Dengan mengarahkan pengikut-pengikutnya menjadi
suatu mania kelompok, agama menyiapkan mereka untuk menjadi beban dari neurosis
individu.
Tentu sekarang, segala sesuatu tidaklah lagi
begitu sederhana. Dalam banyak wilayah, ilmu pengetahuan mengantikan agama.
Orang-orang hampir tidak lagi tertarik pada tuhan-tuhan untuk “mengusir
teror-teror alam” (exorcise the terror of
nature), mereka lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Adalah
lebih sulit bagi mereka untuk tunduk pada dua fungsi agama yang lain, yaitu
kebutuhan akan janji keabadian dimana agama menghibur meraka untuk mengatasi
kematian dan memastikan mereka mendapatkan kompensasi dalam dunia yang akan
datang atas frustasi-frustasi yang tetap ada dalam hidup ini. Kekalahan agama
atas ilmu pengetahuan bukan berarti hilang nya agama secara keseluruhan. Dalam
sosok manusia tetap selalu eksis seorang naak yang membutuhkan kenyamanan dan
yang tetap memerlukan “penenang” (sedative)
yaitu agama.
b.
Akhir dari suatu Ilusi?
Freud kadang-kadang memberi hormat pada
agama. Agama telah memberikan banyak bantuan bagi ras manusia; misalnya, dengan
memberikan dukungan pada moralitas yang mempunyai kontribusi untuk “menjinakan
insting-insting sosial” (taming of social
instincts). Tapi ia juga telah merampok kebahagiaan umat manusia yang
seharusnya menjadi milik manusia; ia tak pernah berhasil “ membuat mayoritas
umat manusia bahagia”. Dengan demikian inilah waktunya untuk meninggalkan agama
dan sebagai gantinya membuka diri kita sendiri pda kebahagiaan yang tersedia
abagi kita.[27]
Agama berhubungan dengan masa kecil ras
manusia. Sebagai mana neurosis masa kecil lenyap bersama dengan bertambahnya
kedewasaan, begitu juga” harus dianggap bahwa perjalanan menjauh dari agama
terjadi bersamaan dengan suatu proses kedewasaan, yang tak terelakan dan bahwa
kita mendapatkan dari diri kita berada pada suatu titik yang ada di
tengah-tengah masa perkembangan tersebut.”[28]
Tentu, seharusnya tidak ada pertanyaan tentang “mencoba meninggalkan agama
dengan kekuatan dan dengan suatu pukulan tunggal.”[29]
Orang beriman mengkin akan tetap butuh waktu panjang untuk melawan perkembangan
semacam itu, tapi prosesnya takterelakan. Langkah perkembangan itu akan bertambah cepat segera
setelah seseorang berhenti untuk “ditentukan” (conditioned) oleh pendidikan agama mempresentasikan suatu tahap
yang sekarang telah terlampaui. Freud
melihat sejenis hukum tiga keadaan yang bekerja dalam perkembangan ini:
Dalam animistik manusia mengangap dirinya
sebagai mahakuasa; dalam tahap religius dia memberikan kemahakuasaan pada
tuhan, tetap secara serius menyerah pda tuhan, karena dia menyediakan
bagidirinya suatu hak untuk mengontrol tuhan dengan keinginanya. Dalam
pandangan sikap ilmiah terhadap hidup tidak ada ruang lagi kemahakuasaan
manusia; dia telah mengakui kekecilanya dan telah menyerah pada kematian
sebagaimana semua keniscayaan alami lainya dengan suatu semangat untuk pasrah.[30]
Agama hanya dapat mengunci individu dalam
suatu tahap yang telah ditinggalkan di belakang dan menghalangi perkembangan
indidu menuju tahap ilmiah.
Umat manusia harus berusaha untuk menjadi
dewasa; penghiburan agama tidak lagi pantas mendapatkan kepercayaan dari umat
manusia. Manusia harus memasuki tahap ilmiah dan mencoba menguasai dunia, dan
yang terakhir, yaitu apapun yang dipaksakan pada mereka, mereka harus tabah.
Mereka harus menerima kematian, demi satu hal, sebagai suatu nasib yang tak
terelakan. Apakah ini terlalu banyak meminta dari mereka? Tidak, karena umat
manusia mempunyai lebih banyak sumber daripada yang kita pikiran untuk melawan
nasib mereka.
Pengetahuan
ilmiah telah mengajari mereka banyak hal sejak masa-masa Banjir Besar (nasib
Nuh), dan itu akan menambah kekuatan mereka lebih lanjut. Dan mengenai
keniscayaan takdir, yang harus tidak bias dilawan tanpa bantuan, mereka akan
belajar untuk pasrah tawakal. Apakah manfaat yang mereka dapatkan dengan
membayangkan suatu tanah luas di bulan, yang panenya tidak seorangpun pernah
melihatnya? Sebagai seorang petani jujur di bumi ini, mereka akan mengetahui
bagaimana cara mengusahakan nasib mereka dengan satu cara yang akan dapat
mendukung mereka. Dengan menaraik harapan mereka akan suatu dunia lain dan
mengkonsentrasikan semua energi mereka pada kehidupan di bumi ini, mereka
mungkin akan berhasil dalam mencapai suatu keadaan dimana hidup akan dapat
ditoleransi oleh setiap orang dan peradaban tidak lagi menindas semua orang dan
peradaban tidak lagi menindas semua orang. Kemudian, bersama dengan para
pengikut tidak beriman, mereka akan sangup untuk mengatakan tanpa penyesalan: Den Himmel uberlassen wir/Den Engeln and den
Spatzen (kita meninggalkan surga untuk para malaikat dan burung-burung
Gereja Heine).[31]
Perspektif yang diambil sangat keras dan
heroik. Dalam penilaian Freud, tidak ada sikap yang bernilai bagi umat manusia,
dan dia sendiri mengambilnya tanpa kehilangan selera humornya.[32]
tapi, tidak mungkin, bahwa mayoritas umat manusia akan menerima perspektif itu.
“ Sungguh menyakitkan untuk berfikir bahwa mayoritas besar dari yang mati tidak
akan pernah dapat melampaui pandangan pandangan hidup (yang ditawarkan agama
pada manusia).”[33]
Freud mengharapkan suatu perkembangan semacam itu (tahap ilmiah) diantara orang
terdidik.[34]
Ilmu pengetahuan tidak menjanjikan apapun dalam kantungnya; ia hanya mempunyai
satu tugas untuk menentukan sesuatu dihadapan kita, “ tapi suatu ilusi akan
beranggapan bahwa apa yang tidak dapat kita dapatkan dari ilmu pengetahuan akan
bias kita dapatkan di lain tempat.”[35]
Seperti yang diliha Freud, ilusi agama akan sedikit demi sedikit kehilangan ”
pegangan”-nya dalam pikiran umat manusia bersamaan dengan berlalunya waktu.
c. Tantangan
bagi Freud
Keyakinan dalam ilmu pengetahuan semacam ini
sekarang pada dirinya sendiri telah menjadi ketinggalan jaman. Opotisme
kelebihan dari Freud telah didobrak dari segala sisi tentu, kita tidak dapat
menyalahkan dia untuk memakai saintisme zamanya pada titik ini; opotisme
semacam itu sunnguh dapat dipahami pada saat ilmu pengetahuan sedang berkembang
maju dalam segala wilayah. Opotisme semacam ini telah digoyang pada masa kita
karena ilmu pengetahuan harus mengakui ketidakmampuanya untuk mengajukan
kebijaksanaan pada dunia kita.
Hal yang lebih dapat dipertanyakan dari visi
sosok manusia yang kaku yang ditawarkan freud pada kita. Apakah itu umat
manusia? Bagi Freud, mereka merupakan suatu bak penampungan insting yang secara
konstan melaui jalur yang sama dan degan suatu monoton yang melatihkan yang
mengulangi pola-pola oedipal. Setiap umat manusia mirip dengan pasien-pasienya
Freud karena semua penderitaan umat manusia berasal dari frustasi seksual yang
tak sadar. Apakah umat manusia tidak mempunyai kebutuhan lain yang bahkan lebih
dalam dan lebih membuat trauma, kebutuhan yang keluar ke permukaan ketika
laki-laki dan perempuan dihadapkan dengan ”ketiadaan” mereka? Hal itu merupakan
klaim dari Viktor Frankl, seorang psikoanalis yang menantang pandangan Freudian
sebagai “sempit” dan mengubah perhatian kita pada cakrawala yang lain.
Frank menemukan dalam ketaksadaran suatu
dimensi yang telah dilihat Freud, suatu dimensi yang berupa kehendak untuk
memaknai dan bukanya prinsip kenikmatan yang bersifat dominan. Frankl menyebut
dimensi ini “ketaksadaran spiritual” (the
spiritual unconsius).[36]
Melalui pertemuanya dengan pasien-pasiennya juga karena pengalamanya sendiri
sebagai seorang tahanan, Frankl secara bertahap menjadi yakin bahwa umat
manusia menderita tidak hanya karena frustasi seksual atau karena kompeks
inferioritas (Adler) tapi juga karena ketiadaan pemaknaan dimana hanya
penerimaan terhadap Tuhan, yaitu”makna –supra (supra-meaning) yang dapat memberikanya. Dengan demikian pula para ahli terapi tidak tertarik pada yang
bersifat spiritual. Psikoanalis Freudian memutuskan bahwa manusia memiliki dalam dirinya suatu insting yang direpresi,
tapi keputusan tersebut merupakan suatu keputusan yang sewenang-wenag yang
membuat para analis Freudian pada adanya fakta bahwa umat manusia juga memiliki
dalam dirinya suatu dimensi spiritual yang direpresi. Frankl telah mengembangkan suatu
“logoterapi”, yang secara esensial bermaksud menunjukan cara untuk
mengorientasikan pikiran dan mata orang-orang terhadap yang spiritual.
Logoterapi memahami bahwa orang-orang yang telah diasingkan oleh halangan atau
penolakan meraka atas spiritual. Logoterapi bertujuan untuk membantu
mereka menjadi orang yang bebas yang
mampu untuk menjadi sadar, yaiut mempunyai sikap yang penuh pertimbangan
terhadap Tuhan.
Frankl yakin bahwa ketaksdaran mengarah pada
Tuhan, dan makanya dia membukanya dengan petunjuk yang telah terlupakan ini.
Dia tidak ragu untuk mengatakan tentang
“Tuhan yang tak sadar” (The Unconscious God). Kata-kata ini mungkin mengejutkan
kita. Apakah Frankl mengemukakan suatu bukti baru tentang eksistensi Tuhan?
Apakah dia telah menentukan nama atau telah menyingkapkan wajah beberapa sudut
terlupakan dari ketaksadaran ini? Tidak sama sekali. dia membuat klaim semacam
itu. Tuhan tidak dapat dilokalisasi, bahkan dalam kesadaran. Maka apa yang dia
maksudkan dengan mengatakan tentang “Tuhan yang tak sadar”? dia mengatakan
bahwa ketaksadaran manusia tidak hanya berbicara tentang Tuhan dan bahwa,
apapun yang tampak, uamt manusia selalu memiliki suatu hubungan tak sadar
dengan Tuhan.
Psikoanalisis tidak mempunyai kompetensi
untuk memutuskan pertanyaan apakah tuhan sungguh-sungguh aada atau tidak. Kita
mungkin bakan ragu untuk mengikuti Frankl dalam hipotesisnya tentang Tuhan yang
tak sadar (terminologi tersebut setidaknya bersifat ambisius). Menolak
pendekatan reduksionis yang mereduksi yang lebih tinggi menjadi yang lebih
duksionis yang mereduksi yang lebih tinggi menjadi yang lebih rendah malahan
dia respek terhadap karakte spesifik dari dimensi spiritual. Frankl yakin bahwa
ide tentang tuhan adalah lebih koheren daripada yang mau diakui oleh
psikoanalisis Freudian. Jika agama tidak lagi adalah suatu neurosis kolektif,
maka agama seharusnya dibuang. Tapi mungkin benar juga bahwa neurosis individu
benar-benar merupakan ungkapan dari suatu penolakan terhadap agama! Jika begitu
kasusnya, bagaimana neurosis dapat dihilangkan jika orang-orang secara sadar
memasukan kembali dimensi agama ke dalam hidupnya? Farnkl yakin: jika tuhan
menghantui mimpi dari pasien-pasienya, kadang-kadang sampai pada taraf obsesif,
dia melihat ini sebagai suatu bukti yang lemah tentang suatu ilusi yang
bertahan daripada( bukti yang lebih kuat yaitu) suatu perjuangan pasien
terhadap Tuhan yang ditolaknya.
Agama bukanlah suatu usaha remeh yang harus
ditolak dengan suatu sapuan tangan atau pengabaian yang hati-hati atau sengaja.
Freud menganggap agama sebagai realitas psikologis yang sangat resisten, untuk
melawanya dia menggerakan semua kekuatan psikoanalisis. Freud yakin telah
menganalisis mekanisme yang menghasilkan agama, dan menerangkan realitas
psikologis yang dapa dilihat di belakang figur tuhan. Apakah dia telah
berhasil? Kadang-kadang dia menekankan pada karakter terbatas dari penemuanya;
“saya tidak pernah tinggal di semua bagian rumah kecuali di lantai pertama dan
lantai dasar.” Tapi dia kemudian langsug menghasilkan suatu reduksionisme
(agama “tidak lain” adalah) ketika dia menambahkan: “saya telah menemukan suatu tempat bagi agama
pada bagian bawah rumah kecil saya segera setelah saya menemukan kategori dari
’neurosis umat manusia’ [37]
Setelah suatu awal yang bijaksana, suatu keyakinan yang tak tergoyahkan: agama
merupakan suatu produk dari psike, dan psikolanalisa telah menyingkapkan
dasar-dasarnya. Freud tidak akan mencoba untuk menemukan agama pada tempat
tinggal yang lain dan yang lebih sesuai.
Tapi basis dari pemahaman Freud atas agama
merupakan basis yang “terbatas”; dan sebagai tambahan, sewenangwenag. Dia
membebani diri dengan hipoesis yang mencurigai bahwa semua akan membawa pada
formasi dari suatu “mitos ilmiah” (scienfic
myth) yang relatif koherentapi secara menelanjangi realitas agama.
Sebagaimana diamati Ricoeur, Freud mempunyai pilihan lain yang terbuka baginya
tapi tidak mampu mengambil keuntungan dari mereka. Daripada kembali pada
pembunuhan bapak sebagai penjelasan dari asal-usul agama, Freud dapat, dalam
kerangka praanggapanya sendiri, secara logis memilih suatu ikatan atau cinta
persaudaraan sebagai asal-usul. Dia kemudian dapat memvalidasi suatu tipe agama
yang berbeda, salah satunya lebih dekat
dengan agama yang ditemukan dalam Alkitab. Tapi segera setelah dia
membuat neurosis sebagai titk acuan mandiri untuk menjelaskan fenomena agama,
pilihan terhadap pembunuhan bapak sendiri menjadi tak terelakan.[38]
Pilihannya membawa pada suatu cerita Tuhan
yang jahat dan represif, suatu citra yangtidak sesuai dengan citra orang
kristiani. Tuhan Freud berhubungan terutama dengan tabo moral dan mempunyai
peran ideologis yang berlangsung dalam masyarakat. Fungsinya adalah untuk
menguatkan kekohersifan sosial dan, secara sekunder, untuk menghibur Manusia
dalam kesusahanya. Citra tersebut sesungguhnya agak tida koheren karena Tuhan
ini membuat frustasi sekaligus menghibur; tuhan mengambil dan memberi. Jenis
tuhan ini sesuatu dengan kebutuhan manusia: tuhan diperlukan untuk
mendisiplinknan sesuatu yang liar dalam diri kita tuhan semacam itu ambisius,
ini adalah karena umat manusia dalam dirinya sendiri ambisius. Sikap apa yang
dapat mereka ambil terhadap tuhan seperti itu kecuali perilaku manusia yang
penuh tipu daya dan kekanak-kanakan untuk membujuk dia? Semacam itu masih
terlalu sering titemukan. Tapi tidak ada yang orang Kristiani di antara mereka.
Secara sederhana, Freud tidak memahami makna
dari keyakinan kristianitas. Tujuan dari Kristianitas bukanlah untuk
memenjarakan orang-orang dalam tahap masa kecil tapi untuk menuntun kemampuan
kita akan cinta ke suatu tingkat kedewasaan. Dengan demikian tidak ada jalan
keluar dari kristianisme agama Freudian kecuali melalui suatu kesaksian cinta
yang intensif. “ Satu-stunya hal agar dapat lepas dari kritik Freud adalah
melalui suatu keyakinan sebagai sesuatu pernyataan cinta: “Tuhan begitu
mencintai dunia” (God so loved world[39])
maka suatu keyakinan tidak dipahami untuk”menamakan” umat manusia dalam
ketakutan dan ketundukan. Keyakinan tidaklah melindungi mereka dari bahaya;
sebaliknya ia, menurut bahwa mereka akan mengambil resiko yang berasal dari
cinta. Kritik Freudian mempunyai nilai ini, yaitu kritik membersihkan dan
mendorong kita untuk secara konstan memvalidasi citra kitaa tentang tuhan dan
perilaku religius kita.
Freud sangat terkesan dengan bertahanya
agama dan tetap berthanya dalam pikiran orang-orang. Dalam karya terakhirnya,
dia mengakui, hampri-hampir terhadap orang yang begitu yakin akan eksistensi
dari sesuatu kekuatan tertinggi (Supreme
Power) [40]
tapi dia kemudian berpegang pada pendiriannya sendiri: kajianya mencegah
dia untuk menganut keyakinan semacam itu, yang dia anggap sebagai sesuatu yang
sudah kuno tak dapat lagi diingat.
[1] Ernest Jones, The life
and Work of Sigmund Freud 3 (New York: Basic Cooks, 1937), hal. 351
[2] J. Stachey, Civilation
and Is Discontents ( New York : Norton, 1961), hal. 11
[3] E. Mosbacher, psychoanalysis
and Faith : The Letters Of Sigmud Freud and oskar Fpister (New York : Basic
Book, 1963), hal. 17.
[4] “ A religious
Experience “ (1928), dalam sigmund freud, Collected Papers ( 5 vols : New York: Basic Books, 1959)
[5] Cf. Ricouer, op. Cit.
[6] Cf. Jones, op. Cit. 3:367
[7] Ibid
[8] ibid
[9] CP-2:28
[10] CP 2:27
[11] CP 2:28
[37] Diebutkan
dalam Frankl, la psycotherapie et Son Image de L’hommo tranleted by
J.Feisthauer (Paris: Resma 1970), hal 138
[38] Paul
Ricouer, Freud and Philosophy, An Essay an Interpretation, Transleted by D.
Savage (new Heaven: Yale University Pess, 1970), hal.535-36
